ditulis oleh

Widad Zahra Adiba

Mahasiswa Psikologi Universitas Johannes-Gutenberg Mainz, Jerman

yang saat ini sedang internship di Klinik Pelangi

 

A Beautiful Mind  adalah sebuah  buku  dan  film  pemenang  Academy Award  yang dibintangi Russell CroweEd HarrisJennifer ConnellyChristopher Plummer, dan Paul Bettany. Film ini mengisahkan tentang seorang matematikawan pemenang Penghargaan Bank Swedia dalam Ilmu Ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel John Nash dan pengalamannya menderita skizofreniaBiografi ini ditulis oleh Sylvia Nasar yang diterbitkan pada tahun 1998. Film ini diilhami oleh biografi tersebut, dan dirilis pada tahun 2001.

Film  a Beautiful Mind mengisahkan seorang  Matematikawan  John Nash (Russel Crowe) peraih nobel dalam bidang Ilmu Ekonomi pada tahun 1994. Dia adalah seorang Matematikawan jenius, tetapi tak simpatik dan agak apatis. Dimulai tahun 1947, ketika dia bersekolah di perguruan tinggi  Princeton  dengan mendapat beasiswa  Carniege. John Nash merupakan mahasiswa yang unik, ia tidak menyukai perkuliahan dan suka membolos, karena menurutnya berkuliah hanya membuang waktu saja dan mengekang kreativitas seseorang, dan hanya membuat otak menjadi tumpul. Nash lebih suka belajar secara otodidak, memahami dan memecahkan dinamika pergerakan natural melalui pemikirannya sendiri yang sangat kreatif. Nash lebih banyak meluangkan waktu di luar kelas demi mendapatkan ide orisinil untuk meraih gelar doktornya. Akhirnya dia berhasil diterima di pusat penelitian bergengsi, Wheeler Defense Lab di MIT.

Di lain sisi, Nash mengidap gangguan skizofrenia, yaitu suatu gangguan menyebabkan seseorang sulit membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Sebenarnya gangguan tersebut sudah dideritanya sejak dia berada di Princeton, namun semakin parah ketika ia mengajar di MIT. Hidup Nash mulai berubah ketika ia diminta Pentagon memecahkan kode rahasia yang dikirim tentara Soviet. Lika-liku perjuangan hidup Nash dalam menuntaskan misi tersebut serta melawan gejala skizofrenia ini dapat disimak lebih lanjut dalam A Beautiful Mind.

Skizofrenia mungkin bukanlah suatu istilah yang asing di telinga masyarakat kita. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi gangguan mental kronis yang mempengaruhi cara orang berpikir, merasakan dan bertingkah laku. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi terputus kontak dengan realitas, yang kerap ditandai dengan persepsi yang salah, ketidaksesuaian tindakan dan perasaan, menutup diri dari hubungan orang luar dan realitas. Prof. Weinberger, Kepala Divisi Gangguan Otak Klinis di National Institute of Mental Health Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa skizofrenia dapat merampas kemampuan orang untuk menjalin hubungan dengan orang lain dan bekerja secara produktif. Besarnya dampak skizofrenia dalam melumpuhkan kemampuan orang ini tak jarang membuat skizofrenia dikenal sebagai penyakit “kanker” pada kesehatan mental.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders fifth edition (DSM-V), seseorang dapat dinyatakan mengalami gangguan Spektrum Skizofrenia dan psikosis lainnya apabila mengalami setidaknya satu atau lebih gejala sebagai berikut: delusi, halusinasi, kekacauan pikiran (bicara), kekacauan tingkah laku atau motorik, dan gejala negatif. Diagnosis ini hendaknya ditegakkan oleh Psikiater setelah melalui pemeriksaan yang seksama dan dipastikan bahwa gejala bukanlah diakibatkan oleh gangguan pada otak dan fungsinya. Guna memenuhi diagnosis ini, gejala harus muncul secara konsisten selama beberapa periode tertentu, sesuai dengan spektrum gangguan  yang mungkin dialami.

Penyebab terjadinya skizofrenia memang belum diketahui dengan pasti. Fokus perawatan skizofrenia dapat ditempuh dengan mengatasi gejala-gejala yang muncul pada individu yang mengalami skizofrenia. Walau tampaknya berat, gejala skizofrenia ini dapat diatasi dengan pengobatan berkala, rehabilitasi psikososial, dan tentunya dukungan dari orang-orang terdekat. Konsultasi dengan psikiater dibutuhkan untuk menentukan obat-obatan antipsikotik yang tepat serta dosis yang benar. Psikolog dapat membantu dalam mengajarkan dan menggunakan strategi pemecahan masalah sehari-hari bagi individu dengan skizofrenia guna memenuhi tujuan hidupnya. Dukungan keluarga turut menjadi hal penting yang dapat menentukan keberhasilan dari rawatan ini. Integrasi antara obat-obatan, rehabilitasi psikososial, serta dukungan dari lingkungan sosial akan membantu individu untuk mengatasi gejala-gejala skizofrenia dengan lebih efektif, demikian penjelasan psikolog Irene Raflesia, M.Psi, Psikolog Klinis Dewasa Klinik Pelangi. Bila ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai skizofrenia, dapat menghubungi Klinik Pelangi Kota Wisata, Cibubur di no. telp. 0812-911-86-736.

Sumber Referensi :

https://www.dnalc.org/view/818-Schizophrenia-the-Cancer-of-Mental-Illness.html

http://www.nami.org/Learn-More/Mental-Health-Conditions/Schizophrenia/Treatment

https://www.nimh.nih.gov/health/topics/schizophrenia/index.shtml

https://www.psychiatry.org/File%20Library/Psychiatrists/Practice/DSM/APA_DSM-5-Schizophrenia.pdf

https://id.wikipedia.org/wiki/A_Beautiful_Mind

 

Narasumber :

Psikolog Irene Raflesia, M.Psi, Psikolog Klinis Dewasa Klinik Pelangi

 

Disusun oleh :

Widad Zahra Adiba, mahasiswa Psikologi Universitas Johannes-Gutenberg Mainz, Jerman

yang saat ini sedang internship di Klinik Pelangi

 

 

Mengenal Skizofrenia Lebih Dekat
Tagged on:                 

2 thoughts on “Mengenal Skizofrenia Lebih Dekat

    • February 18, 2019 at 3:08 am
      Permalink

      Halo Rita,
      Skizofrenia pada dasar nya penyebabnya adalah faktor Genetik, faktor Pengaruh lingkungan, dan faktor Struktur kimia otak
      lebih jelas nya dapat contact kami di 0812.911.86.736

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *