Pentingnya Meregulasi Emosi pada Remaja Terkait Kasus Pembunuhan di SMA Taruna Nusantara

0 Comments

Widad @Gemany

ditulis oleh Widad Zahra Adiba

Mahasiswa Psikologi Universitas Johannes-Gutenberg Mainz, Jerman

Yang saat ini sedang internship di Klinik Pelangi

Semua orang pasti pernah merasakan emosi, emosi bisa muncul kapan saja sesuai suasana hati seseorang, tidak mengenal usia, dari bayi, anak-anak, remaja, sampai dewasa semua pernah merasakan emosi. Seperti yang dijelaskan oleh Rendra Yoanda M.Psi, Psikolog Klinis Anak dan Remaja di Klinik Pelangi, bahwa emosi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manusia. Tanpa emosi, manusia tidak bisa merasakan dan memaknai berbagai hal yang terjadi di sekelilingnya. Emosi merupakan hal yang bersifat netral dan memiliki fungsi untuk survival, atau secara lebih lanjut dapat dikatakan bahwa emosi membantu manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dari hal-hal yang membahayakan atau berpotensi membahayakan. Emosi perlu untuk diregulasi. Maksud dari regulasi di sini bukan berarti seorang individu tidak boleh merasakan emosi-emosi tersebut, melainkan intensitas dan ekspresi emosinya diatur agar tidak sampai merugikan diri sendiri ataupun orang lain.

1939892_10204140925938032_3399208788901824354_n (2)

Sebagai salah satu contoh bentuk emosi yang tidak diregulasi dengan baik, yaitu kasus pembunuhan oleh salah seorang murid dari SMA Taruna Nusantara berinisial AMR pada temannya sendiri. AMR diduga melakukan aksi pembunuhan tersebut dengan alasan memendam rasa kesal dan dendam oleh korban, karena korban pernah memergoki AMR saat ia mengambil tabungan teman temannya diam-diam, kemudian melaporkan perbuatan AMR pada guru dan ia dikenai sanksi.

“Pada umumnya remaja memiliki fluktuasi emosi yang lebih tinggi dibandingkan individu dewasa. Hal ini disebabkan oleh stres yang dialami oleh remaja juga lebih tinggi karena mereka dituntut untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi pada diri mereka, seperti pubertas, perubahan cara berpikir, meningkatnya otonomi dan kemandirian, serta pengaruh teman sebaya. Meskipun sumber stres pada remaja cukup banyak, tidak semua remaja akan terjebak dalam perilaku-perilaku maladaptif, seperti penyalahgunaan zat adiktif ataupun keterlibatan dalam perilaku seksual yang tidak aman. Ada banyak faktor protektif yang berpengaruh di sini, misalnya kelekatan dengan orangtua, pengasuhan yang suportif, inteligensi, kepercayaan diri yang tinggi, dan norma-norma sosial yang positif. Apabila faktor-faktor protektif tersebut ada pada remaja, umumnya kemampuannya dalam meregulasi emosi juga akan baik. Apabila remaja sampai menampilkan perilaku yang maladaptif, maka ada kemungkinan faktor-faktor protektif tadi tidak dimiliki oleh remaja yang bersangkutan”, tutur psikolog Rendra.

“Pada remaja muncul perilaku ‘out of control’ atau perilaku yang tidak terkendali dan tidak mampu mengelola emosinya, maka  kemungkinan remaja tersebut mengalami stres jangka panjang. Di bawah tekanan tertentu seorang individu merespon dengan cara yang beragam. Salah satu tujuan dari respon emosi adalah untuk menghindari atau menekan emosi yang sulit seperti marah, cemburu atau rasa takut. Hal ini yang kemudian membuat seseorang memperlihatkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma bahkan melanggar hukum”, jelas Noridha Weningsari M.Psi, Psikolog Klinis Anak dan Remaja di Klinik Pelangi.noridha.weningsari

“Regulasi emosi merupakan aspek yang penting dan menjadi suatu fondasi bagi perkembangan kesehatan mental, pencapaian akademik, kepercayaan diri, self esteem, hubungan sosial, dan penyesuaian diri yang positif. Ketidakmampuan seseorang untuk meregulasi emosinya atau disregulasi emosi merupakan salah satu faktor utama bagi seseorang memiliki masalah emosi dan penyesuaian diri. Disregulasi emosi juga dikaitkan dengan masalah perilaku seperti depresi, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, adiksi, nilai akademis yang buruk, perilaku agresif, dan sebagainya. Oleh sebab itu, kemampuan mengontrol emosi merupakan aspek yang sangat penting bagi remaja untuk mencapai prestasi dan perilaku yang positif”

 

Melatih kontrol diri dan emosi sebaiknya dimulai sejak masa kanak-kanak dan terus dilanjutkan hingga anak memasuki usia sekolah. Oleh sebab itu, sangat penting bagi orangtua untuk melatih kemampuan mengontrol diri anak sejak dini agar saat memasuki usia remaja, anak sudah lebih terampil dalam meregulasi diri dan emosinya. Beberapa tips dari psikolog Noridha yang dapat dilakukan untuk melatih regulasi emosi adalah sebagai berikut :

  1. Mengenalkan anak dan remaja mengenai berbagai emosi, penyebab dan reaksi yang biasa muncul saat emosi muncul.

Setiap orang memiliki emosi, baik emosi positif seperti bahagia, bangga, percaya, maupun emosi negatif seperti marah, takut, kecewa, dll. Anak dan remaja perlu dikenalkan terhadap emosi tersebut, penyebab dan kapan munculnya emosi tersebut, dan bagaimana reaksi mereka saat emosi tersebut muncul. Orangtua dapat memanfaatkan berbagai sarana dalam mengenalkan emosi, baik melalui gambar, video maupun dengan bermain peran.

 

  1. Mengajarkan anak untuk menerima pengalaman emosi dan emosi yang yang timbul, baik emosi yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, baik emosi positif maupun negatif. Tentunya orangtua sudah terbiasa dengan emosi positif yang dimiliki anak. Namun saat anak memperlihatkan emosi negatif, orangtua mulai merasa kebingungan mengenai hal yang harus dilakukan. Saat anak memperlihatkan emosi negatif, hal yang penting untuk dilakukan oleh orangtua adalah memberikan penjelasan bahwa emosi negatif merupakan emosi yang wajar dan pasti dimiliki semua orang. Berikan penekanan bahwa hal yang tidak wajar dan kurang baik dilakukan adalah respon emosinya, misanya memukul saat sedang marah. Dengan memberikan pemahaman ini, anak belajar untuk menerima emosi mereka dan mencari respon yang positif meski emosi negatif

 

  1. Melatih anak mengelola stres dan mengelola perasaan bahagia atau menggebu-gebu guna menyeimbangkan reaksi emosi yang muncul.

Setelah mengetahui penyebab munculnya emosi, maka hal yang kemudian dapat dilakukan adalah mengajarkan anak mengenai hal-hal yang dapat dilakukan saat dihadapkan pada hal-hal yang menyebabkan munculnya emosi tertentu. Mengajarkan anak problem solving seperti memikirkan dampak dari perilakunya, mengajarkan anak berkomunikasi kepada orang lain mengenai emosinya, melatih anak teknik relaksasi atau yoga untuk menenangkan diri, maupun mendorong anak melakukan kegiatan olah raga atau luar ruangan untuk menyalurkan emosi dapat menjadi beberapa alternatif bagi anak untuk belajar mengelola stres. Anak juga dapat diajarkan membuat rencana, menuliskannya, membuat buku harian, dan melakukan aktivitas seni sebagai sarana tambahan untuk mengelola emosi dan stres.

 

  1. Saat anak sedang emosional, maka orangtua diharapkan untuk peka, memberikan aturan yang jelas, dan konsisten terhadap respon terhadap perilaku anak.

Salah satu aspek yang penting dalam perkembangan emosi seorang anak adalah aturan yang berlaku dan bagaimana lingkungan merespon perilaku anak. Saat anak memperlihatkan reaksi emosi yang negatif dan orangtua membiarkan, maka anak akan terus memperlihatkan reaksi emosi tersebut. Namun dibalik konsistensi yang diperlihatkan, orangtua juga harus peka terhadap kebutuhan emosi anak. Saat anak merasa cemas, maka memberikan pendampingan dan arahan akan lebih baik dibandingkan memaksakan aturan. Saat anak marah karena keinginannya tidak dituruti, maka memberikan pemahaman dan memberikan aturan yang jelas juga tentunya akan lebih baik dibandingkan meredakan emosi anak dengan memberikan keinginannya.

 

“Sebagai orangtua maka sebaiknya kita menjadikan kasus ini sebagai pelajaran untuk melatih anak mengelola emosinya dengan memberikan lingkungan yang peka disertai aturan dan konsistensi dalam penerapannya untuk mendukung kemampuan meregulasi emosi yang positif”, tutup psikolog Noridha.

 

Narasumber:

Rendra Yoanda M.Psi, Psikolog Klinis Anak dan Remaja di Klinik Pelangi

Noridha Weningsari M.Psi, Psikolog Klinis Anak dan Remaja di Klinik Pelangi

 

Sumber referensi :

http://regional.kompas.com/read/2017/04/02/07353541/ini.motif.pembunuhan.siswa.sma.taruna.nusantara

Learning2breathe.org

Ncbi.nlm.nih.gov

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *