Psychological First Aid (PFA)

Pertolongan Pertama Psikologis Ketika terjadi Bencana

Ditulis oleh Marwa Basyarahil

Mahasiswa Psikologi The University of Queensland, Australia

Yang saat ini sedang internship di Klinik Pelangi

 

Beberapa bulan terakhir ini, bencana menjadi salah satu topik yang marak dibicarakan masyarakat. Pada tahun 2018, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) mencatat terjadinya bencana sejumlah 1.250 kejadian, mulai dari kecelakaan transportasi, kebakaran, banjir, letusan gunung api, hingga gempa bumi dan lainnya. Selain memakan korban jiwa dan mengakibatkan kerusakan, bencana juga dapat mempengaruhi keadaan psikologis individu yang mengalami peristiwa tersebut. Menurut Fernandez dkk. (2017), seorang individu berkemungkinan lebih besar untuk menderita PTSD (Post-traumatic Stress Disorder atau gangguan stress pasca-trauma) setelah mengalami kejadian bencana alam.

Pasca bencana, pada umumnya first aid atau pertolongan pertama diberikan untuk menanggulangi penyintas. Namun, menurut ilmu psikologi terdapat bantuan atau pertolongan yang bersifat psikologis, atau psychological first aid (PFA). Josef dkk. (2007) mendefinisikan PFA sebagai bantuan sistematis yang bertujuan untuk mengurangi tekanan pasca trauma dan membantu adaptasi jangka pendek dan panjang individu. Menurut Cinintya Dewi M.Psi, psikolog klinis anak lulusan UI, konsep PFA mirip dengan first aid yang selama ini mungkin sudah lebih dulu kita kenal. Menurutnya, jika first aid adalah pertolongan pertama yang diberikan ketika seseorang mengalami luka fisik seperti teriris, jatuh, atau kecelakaan, maka PFA adalah bantuan atau dukungan awal yang diberikan kepada seseorang yang telah mengalami luka psikologis seperti peristiwa traumatis, kehilangan, atau kedukaan. Tujuan dari PFA pun mirip dengan first aid, yaitu untuk meminimalisir dampak yang lebih serius. “Selain membantu mengurangi risiko berkembangnya masalah pasca kejadian traumatis, seperti masalah pada tidur atau makan, menghindar, mudah marah, sulit konsentrasi dan sebagainya, PFA bertujuan untuk memperkuat fungsi-fungsi adaptif penyintas. Sebab setiap orang pada dasarnya memiliki kekuatan untuk pulih, namun membutuhkan kehadiran dan dukungan orang lain untuk memproses peristiwa sulit yang dialaminya”, tutur Psikolog Cinintya.

Lalu, bagaimanakah pelaksanaan PFA itu? Psikolog Cinintya menjelaskan bahwa ada tiga strategi dukungan dalam pelaksanaannya: safety, function, dan action. Pertama safety, yaitu strategi dukungan yang diberikan dapat berupa memberikan perlindungan dari bahaya dan memenuhi kebutuhan dasar dari penyintas, sehingga muncul rasa aman. Kedua function, yaitu dengan mendengarkan menggunakan empati, menenangkan, menghubungkan dengan dukungan psikososialnya, misalnya mempertemukan dengan keluarga atau menelepon sanak saudara sehingga ia lebih stabil dan siap berfungsi kembali. Ketiga action, yaitu dengan memberikan kepastian dan edukasi tentang situasi yang dialaminya, serta mendorongnya kembali berpartisipasi dalam masyarakat, termasuk kembali melakukan kegiatan, seperti sebelum terjadinya bencana, yang mendorong terciptanya aksi. Safety-function-action inilah yang mendorong resiliensi dan pemulihan. Adapun PFA itu sendiri dapat diberikan oleh siapapun, termasuk masyarakat biasa atau relawan, keluarga, atau first responder (petugas medis atau tim SAR). PFA pun tidak hanya diberikan untuk individu yang mengalami kejadian secara langsung, namun bisa juga untuk keluarganya, saksi mata, ataupun petugas pemberi bantuan.

Salah satu bencana yang belum lama ini cukup menggemparkan tanah air adalah Tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu. BNBP mengumumkan bahwa bencana alam ini menyebabkan 429 orang meninggal, 1.485 orang luka-luka, 154 orang hilang, dan 16.082 orang mengungsi. Dalam memberikan PFA untuk penyintas bencana alam, terdapat hal-hal penting yang perlu diperhatikan. Psikolog Cinintiya mengungkapkan, pemberi PFA harus paham konteks budaya dan masyarakat yang akan dibantu, juga karakteristik bencananya. Selain itu, pemberi PFA juga harus memiliki perspektif bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kemampuan sendiri untuk bangkit atau pulih, sehingga pemberi bantuan bukanlah superhero, namun fasilitator atau teman yang memberikan dukungan. Melalui wawancara dengan beberapa penyintas bencana tsunami Selat Sunda tersebut, yakni FA, CD, dan WS, diketahui masing-masing berpendapat bahwa orang di sekitar mereka kerap menanyakan kronologis kejadian bencana sehingga membuat mereka merasa lelah dan takut karena teringat kembali peristiwa traumatis tersebut. Menurut Psikolog Cinintya, tidak meminta penyintas untuk bercerita dan tidak bertanya bagaimana perasaan mereka setelah mengalami bencana adalah hal penting yang perlu diperhatikan teman atau keluarga penyintas korban. Sebaiknya orang di sekitar penyintas hanya mendengarkan apa yang penyintas ingin katakan dan tanyakan kebutuhannya, dengan bertanya terlebih dahulu apakah mereka ingin dibantu. Psikolog Cinintya mengatakan, pemberi PFA harus bersifat attune, atau seperti ekor komet, yaitu mengikuti keinginan dan kehendak dari penyintas, karena yang tahu bagaimana dan dengan cara apa mereka pulih adalah penyintas itu sendiri.

Adapun dalam memberikan PFA kepada penyintas anak, Psikolog Cinintya memaparkan satu hal penting, selain penerapan tiga strategi PFA di atas. Orang tua sebagai pendamping penyintas anak, apalagi jika orang tua tersebut juga penyintas, perlu mendapatkan dampingan dan diberikan dukungan sehingga dapat mengelola emosinya. Sebab orang tua dengan emosi yang stabil adalah dukungan psikososial yang paling dibutuhkan oleh penyintas anak.

 

Referensi:

http://dibi.bnpb.go.id/dibi/

International Journal of Epidemiology. (2017). 46(2), 440-452. https://doi-            org.ezproxy.library.uq.edu.au/10.1093/ije/dyw094

Josef, I., Ruzek, Melissa, J., Brymer, Anne, K., Jacobs, Christopher M., Layne, Vernberg, E.

M., & Watson, P. J. (2007). Psychological First Aid. Journal of Mental Health  Counseling, 29(1), 17-49.

Medistiara, Y. 25 Desember 2018. “Update Jumlah Korban Tsunami Selat Sunda: 429       Tewas, 154 Hilang”Detik. Diakses tanggal 25 Desember 2018.

 

Psychological First Aid (PFA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *