Fenomena Self-Cutting pada Remaja

0 Comments

Ditulis oleh Marwa Basyarahil

Mahasiswa Psikologi The University of Queensland, Australia

Yang saat ini sedang internship di Klinik Pelangi

 

Pernahkah teman-teman melihat luka pada bagian tubuh orang lain, baik secara langsung ataupun di film, yang disebabkan oleh perilaku menyakiti diri sendiri? Perilaku tersebut adalah perilaku self-cutting, atau yang biasa disebut dengan self-harm atau self-injury. Di Indonesia, tercatat setidaknya 38% dari populasi pelajar pernah melakukan self-injury (Tresno, Ito dan Mearns, 2011). Nah, apa itu self-cutting? Faktor apa sajakah yang dapat memicu terjadinya hal ini? Apa yang sebaiknya pelaku lakukan untuk mengatasinya? Apa yang dapat orang sekitar lakukan untuk membantu? Dinda Aisha, M.Psi, Psikolog Klinik Pelangi yang biasa menangani kasus-kasus Remaja akan membantu mengurai fenomena self-cutting ini. Menurut Psikolog Dinda, self-cutting adalah perilaku seseorang untuk menyakiti dirinya sendiri tanpa ada intensi awal untuk mengakhiri hidupnya. Maka, perilaku self-cutting ini berbeda dengan perilaku suicidal (perilaku bunuh diri). Pada umumnya, perilaku self-cutting ini ditunjukkan dengan menyayat bagian tubuh, seperti tangan, paha, kaki, atau badan menggunakan silet, jarum, atau barang-barang tajam lainnya. Perilaku ini biasanya dilakukan ketika sesorang berada sendiri tanpa adanya orang lain yang menyaksikan, entah itu di rumah, di dalam kamar, di mobil, atau di dalam toilet umum sekalipun.

Mengapa seseorang melakukan self-cutting? Psikolog Dinda menjelaskan bahwa alasan di balik perilaku ini bermacam-macam. Berdasarkan pengalaman beliau, yang paling umum adalah self-cutting yang dilakukan untuk meregulasi perasaan negatif yang timbul pada diri mereka, dimana pelaku berpikir bahwa self-cutting dapat meredakan perasaan negatif tersebut.  Pelaku tidak mengetahui bahwa perasaan negatif itu wajar untuk dimiliki dan ada cara-cara lain yang lebih positif untuk meredakannya, namun yang mereka pahami ialah self-cutting mampu meredakan perasaan itu. Melalui self-cutting, mereka dapat melihat bentuk sakit fisik dengan jelas yang kemudian memberikan perasaan lega. Selain itu, seseorang juga bisa melakukan self-cutting untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka memiliki masalah yang serius dan membutuhkan bantuan. Tujuannya dengan harapan agar orang lain bertanya, memperhatikan, menawarkan solusi, atau menemani mereka. Selain itu, mungkin saja seseorang melakukan self-cutting karena mengikuti trend. Self-cutting yang belakangan ini sedang menjadi trend di kalangan para remaja dapat membuat remaja cenderung memiliki role model yang kurang tepat. Adapun perilaku ini biasanya ditemukan pada individu usia remaja hingga dewasa. Psikolog Dinda menjelaskan kemungkinan munculnya self-cutting akan semakin tinggi pada orang dengan BPD (Borderline Personality Disorder). Self-cutting juga cenderung ditemukan pada orang yang memiliki kerentanan secara emosi, orang dengan regulasi emosi yang kurang baik, atau orang yang memiliki pengalaman kekerasan dan orang yang kurang memiliki dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan terdekatnya.

Lalu apa langkah yang bisa diambil oleh pelaku self-cutting dan orang di sekitarnya untuk membantu mereka mengatasi kebiasaan ini? Pelaku self-cutting dianjurkan untuk mencari bantuan ke orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional, seperti berkonsultasi ke psikolog. Apabila kita mengetahui ada orang yang melakukan self-cutting di sekitar kita, menurut Psikolog Dinda, sebaiknya kita bersikap tetap tenang dan tidak memberikan komentar yang menghakimi (judgemental), menasehati, apalagi menyalahkan. Menurut beliau, kita dapat bertanya apa yang terjadi pada mereka tanpa terlebih dahulu menilai bahwa orang tersebut pasti melakukan self-cutting. Kemudian kita menawarkan bantuan, misalnya mengajak berkonsultasi ke psikolog. Kita perlu memberikan dukungan dan meyakinkan mereka bahwa masalah yang mereka miliki dapat diselesaikan, perasaan negatif maupun stres dapat diredam dengan cara yang lebih positif serta dapat meminta bantuan kepada orang lain. Kemudian bagi orang tua yang mendapati anaknya melakukan perilaku ini, bisa melakukan diskusi dengan anak mengenai permasalahan yang mereka miliki. Ada kemungkinan bahwa sumber masalahnya dari orang tua, seperti anak yang merasa kurang diperhatikan. Hal ini kemudian bisa langsung dibenahi oleh orang tua dan mampu menghilangkan perilaku self-cutting pada anak.

Tips untuk mencegah perilaku self-cutting menurut Psikolog Dinda ialah dengan memahami dan memberikan psikoedukasi ke masyarakat luas, terutama remaja bahwa self-cutting bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah emosi. Perlu disampaikan bahwa perasaan negatif, seperti merasa kecewa, tidak beruntung, tidak dihargai, dan perasaan lainnya merupakan perasaan yang wajar dan dapat dikurangi dengan relaksasi, pendekatan spiritual, bercerita kepada orang yang dipercaya, atau menyalurkannya menjadi karya, seperti menulis, menggambar, crafting, atau bermusik. Apabila memiliki masalah yang dirasa tidak ada jalan keluar, alangkah baiknya untuk meminta saran dan bantuan kepada psikolog.

Referensi:

Tresno, F., Ito, Y., & Mearns, J. (2012). Self-injurious behavior and suicide

attempts among Indonesian college students, Death Studies, 36:7, 627-

639, DOI: 10.1080/07481187.2011.604464

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *