Infodemi: Lebih Berbahaya daripada Covid 19 kah?

Lita Patricia Lunanta, M. Psi, Psikolog

Sejak munculnya pada awal tahun 2020, pandemic Covid-19 telah mempengaruhi masyarakat dan ekonomi kita secara luar biasa. Demikian juga, pandemi ini telah mengganggu tatanan hidup masyarakat luas di seluruh dunia, termasuk apa yang kita baca, apa yang kita bagikan/tuliskan, dan reaksi kita terhadap informasi. Oleh karena kemajuan teknologi, kita mudah mendapatkan pengetahuan dan bukti-bukti empiris terhadap Covid-19. Namun, media sosial juga telah menjadi carrier tersebarnya misinformasi, hoax, dan kebohongan (Prikhidko et al., 2020; WHO, 2020). Sekertaris Jenderal PBB dan Direktur Jenderal WHO sama-sama mengumumkan bahwa kita saat ini bukan hanya melawan pandemic tetapi juga melawan infodemic. Nah, apakah infodemic itu?

          WHO menjelaskan bahwa infodemi adalah jumlah informasi yang berlebihan mengenai suatu masalah, yang menjadikan sulit untuk mengidentifikasi solusi. Infodemi dapat menyebarkan salah informasi, kebohongan dan rumor dalam situasi darurat kesehatan. Infodemi juga dapat mengganggu implementasi respons kesehatan masyarakat yang tepat dan menciptakan kebingungan dan rasa saling curiga diantara masyarakat.(Department of Global Communication, 2020)

Infodemi bukanlah kata yang baru. Pertama kali di tuliskan oleh David Rothkopf pada tahun 2003 dalam artikelnya di Washington Post, menggabungkan kata informasi dan epidemic. Saat itu, dunia juga sedang memusatkan perhatian kepada krisis kesehatan yang berkaitan dengan SARS.

What exactly do I mean by the “infodemic“? A few facts, mixed with fear, speculation and rumor, amplified and relayed swiftly worldwide by modern information technologies, have affected national and international economies, politics and even security in ways that are utterly disproportionate with the root realities. It is a phenomenon we have seen with greater frequency in recent years—not only in our reaction to SARS, for example, but also in our response to terrorism and even to relatively minor occurrences such as shark sightings.
— David Rothkopf, The Washington Post, 11 May 2003
(Merriam-Webster, 2020)

Jika tidak diatasi dengan baik, infodemi dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung dan mempengaruhi kebijakan publik dengan berkurangnya kepercayaan kepada ilmu pengetahuan dan intervensi. Infodemi bahkan membuat masyarakat menjadi tidak bersatu oleh karena adanya perbedaan pandangan, adanya stigma-stigma tertentu kepada penyintas Covid-19, atau perbedaan pandangan antar generasi.

Mempraktekkan prokotol kesehatan pada  informasi, sama seperti kita mempraktekkan protocol kesehatan yang lain (mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas) adalah hal yang penting untuk mencegah penyebaran virus. Informasi yang tersebar tidak ada batasnya dan mempengaruhi kesehatan fisik kita sekaligus jarak pribadi kita (walaupun secara digital).

Berkaitan dengan infodemi, WHO (2020) membuat ajakan untuk seluruh pihak dan komunitas global berkomitmen dan mengambil langkah-langkah mengatasi infodemi. Beberapa yang disarankan oleh WHO antara lain:

  1. Menyadari bahwa infodemi adalah seperti tsunami informasi–beberapa benar, beberapa tidak—yang menyebar bersisian dengan suatu epidemic. Infodemi memang tidak dapat “disembuhkan” tetapi dapat diatasi
  1. Sadari bahwa managemen infodemi akan mengurangi pengaruhi negative baik secara langsung maupun tidak langsung pada kesehatan masyarakat, sekaligus ketidakpercayaan kepada pemerintah, ilmu pengetahuan, dan petugas medis yang membuat masyarakat terpecah belah.
  2. Semua orang memiliki peran dalam mengatasi infodemi
  3. Kita perlu mendukung pendekatan yang menyentuh seluruh masyarakat. Setiap individu perlu untuk membuat, memverifikasi, dan membagikan informasi yang mengarah kepada terbentuknya perilaku yang sehat selama epidemic dan pandemic berlangsung.
  4. Mari kita semua berkomitmen untuk mencari solusi dan cara. Kita tidak ingin menghilangkan kebebasan berekspresi tetapi ingin mengendalikan infodemi yang numpang pada teknologi digital masa kini
  5. Kita semua berusaha untuk membuat ilmu pengetahuan menjadi lebih terbuka, lebih transparan dan lebih mudah dipahami. Kita menjaga sumber informasi kita selalu terpercaya dan selalu memberikan informasi yang sudah memiliki bukti yang jelas.

Kita juga bisa memulainya dari diri masing-masing. Ketika menerima informasi, kita berusaha memahaminya dengan sempurna. Hal ini bisa dilakukan pertama-tama dengan menerapkan active listening- mendengarkan dengan aktif(Grande, 2020), yaitu mendengarkan benar-benar sampai ke inti pesan, mendengarkan dengan empati, mendengarkan tidak hanya bagian-bagian tertentu (selective attention), serta mendengarkan secara keseluruhan (not jumping into conclusion). Setelah itu, kita berusaha menerapkan respons yang bijaksana, menggunakan Socratic Questioning, teknik bertanya yang biasanya melibatkan sejumlah pertanyaan yang focus, yang terbuka (open ended) dan mendorong terjadinya refleksi (Clark & Egan, 2015; Sutton, 2021). Khusus dalam mengatasi infodemi, kita dapat menggunakan tiga pertanyaan mendasar sebelum membagikan suatu informasi. Tanyakan dulu kepada diri sendiri, apakah hal yang ingin saya bagikan/sebar/posting ini adalah sesuatu yang benar, sesuatu yang baik, dan sesuatu yang bermanfaat/berguna. (Exploring Your Mind, 2020). Jika jawabannya tidak untuk ketiga pertanyaan ini, maka sebaiknya informasi tersebut cukup berhenti pada diri kita saja. Jika semua orang mau bertanggung jawab untuk mulutnya dan –dalam media sosial– jempolnya sendiri, infodemi dapat kita atasi bersama  

“To find yourself, think for yourself”

–Socrates–

Lita Patricia Lunanta, M. Psi

Fakultas Psikologi

Universitas Esa Unggul

Referensi:

Clark, G. I., & Egan, S. J. (2015). The Socratic Method in Cognitive Behavioural Therapy: A Narrative Review. Cognitive Therapy and Research, 39(6). https://doi.org/10.1007/s10608-015-9707-3

Department of Global Communication. (2020). UN tackles ‘infodemic’ of misinformation and cybercrime in COVID-19 crisis. United Nations. https://www.un.org/en/un-coronavirus-communications-team/un-tackling-‘infodemic’-misinformation-and-cybercrime-covid-19

Exploring Your Mind. (2020). Socrates’ Triple Filter Test. Exploriing Your Mind. https://exploringyourmind.com/socrates-triple-filter-test/

Grande, D. (2020). Active Listening Skills. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/in-it-together/202006/active-listening-skills

Merriam-Webster. (2020). Words We’re Watching: “Infodemic.” Merriam-Webster. https://www.merriam-webster.com/words-at-play/words-were-watching-infodemic-meaning

Prikhidko, A., Long, H., & Wheaton, M. G. (2020). The Effect of Concerns About COVID-19 on Anxiety, Stress, Parental Burnout, and Emotion Regulation: The Role of Susceptibility to Digital Emotion Contagion. Frontiers in Public Health, 8. https://doi.org/10.3389/fpubh.2020.567250

Sutton, J. (2021). Socratic Questioning in Psychology: Examples and Techniques. Positive Psychology. https://positivepsychology.com/socratic-questioning/ WHO. (2020). Call for Action: Managing the Infodemic. World Health Organization. https://www.who.int/news/item/11-12-2020-call-for-action-managing-the-infodemic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *